Masalah “ke-tua-an” seseorang tidak di ukur dengan tingkat usia, tetapi di kaitkan dengan “kematangan jiwa” orang yang bersangkutan.

“Ati Tuwa” di tandai dengan sifat-sifat menep, mantep dan madhep.

Menep artinya tenang, tidak mudah tergoyahkan oleh sembarang pengaruh baik dari dalam maupun dari luar.

Mantep artinya manpan mantap , kukuh dan setia pada pendiriannya.

Madhep artinya tetap mengacu pada satu arah tertentu, yg pasti hidup selaras dengan semesta.

Ati tuwa yang di dalamnya ada kematangan “rasa pangrasa” tersebut sudah selayaknya di miliki oleh para “orang tua” yg menjadi “jejering asepuh” yg mempunyai kewajiban sebagai orang tua “Darmaning asepuh” yang bertujuan membimbing putra putrinya menjadi manusia dewasa mandiri dan bertanggung jawab.

Kejiwaan orang nusantara cenderung pada “rasa” dengan “olah rasa” memungkinkan seseorang mempunyai kemampuan “tanggap ing sasmitha” maksudnya cepat dan tepat menempatkan ”rasa” nya dalam keadaan yang bagaimanapun juga. ”Rasa” itu tidak sebatas pada rasa pahit, manis, senang atau susah. Lebih dari itu berkaitan dengan “rasaning urip” dan “Waskhita”

“Waskhita” tegese ngerti babagan apa bae, thithi, lan ati-ati marang samubarang kang wus kadaden utawa kang durung kadaden.

Tansah Rahayu.

Kangjeng Pangeran Adipati Aryo Karyonagoro


2 Komentar

RachmatMW · 10/05/2024 pada 09:37

Matur nuwun Romo Pangeran

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *