
Saat ini kebanyakan orang tidak mencari kebenaran. Kebanyakan orang belajar hanya untuk memperoleh pengetahuan yang dipergunakan untuk mencari nafkah, mengejar kedudukan, membesarkan keluarga serta menjaga diri mereka sendiri. Itu saja. Bagi mereka, menjadi pintar lebih penting dibanding menjadi bijaksana.
Apa itu bijaksana? Narasi dalam bahasa Jawa berikut ini dapat menjadi gambaran makna bijaksana atau kawicaksanan.
“Bijaksana/KAWICAKSANAN kuwi saka tembung Wicaksana, sing tegese pangerten bab samubarang . Ora mung winates NGERTI, ananging mangerti kanthi sakbenere. Saka tembung Wicaksana kuwi njur ana tembung KAWICAKSANAN, sing tegese tumindak kang tatetales pangerten kang SEJATI tumrap kahananan. Yen mung ngerti wae ora bisa diarani , ananging yen tumindak tanpa pangerten, ya ora bisa diarani KAWICAKSANAN. Mulane, KAWICAKSANAN yakuwi sadengan tumindak kang tinalesan pangerten kang sakmestine, dene tumindak kuwi ancase mung marang kabecikan tumrap sakabehing titah. “
Dalam bahasa Indonesia bisa dimaknai sebagai berikut:
Bijaksana/kebijaksanaan itu berasal dari kata “wicaksana” yang memiliki makna mengetahui segala sesuatu. Tidak sebatas tahu saja, tetapi mengerti dan memahami apa yang sebenarnya/sejatinya. Dari kata bijaksana itu lalu lahir istilah kebijaksanaan/kawicaksanan yang bermakna segala tindakannya berdasarkan landasan hidup yang sejati/benar pada saat mensikapi suatu situasi.
Ketika sekedar tahu teori tapi tidak bertindak tidak bisa disebut bijaksana. Begitu juga bertindak tanpa didasari pengetahuan juga tidak bisa disebut bijaksana.
Maka KEBIJAKSANAAN adalah ketika suatu tindakan didasari kesadaran dan pengetahuan yang semestinya. Sedangkan tindakan tersebut memiliki maksud untuk kebaikan segenap makhluk.
Tansah Rahayu,
KPAA Karyonagoro
0 Komentar